To be independent isn't that you don't need people.
Just don't let people determine your fate.
Sabtu, 12 November 2016
Selasa, 23 Februari 2016
Easy
A : Do you know the easiest thing in this world?
B : What?
A : Judging people
B : Why?
A : Beacause you don't have to think about another people.
You just think of yourself
B : What?
A : Judging people
B : Why?
A : Beacause you don't have to think about another people.
You just think of yourself
Minggu, 07 Februari 2016
Sabtu, 23 Januari 2016
Regaining?
There is no "regaining trust" in this world.
You're just fooling yourself to accept it
Because from the very beginning,
It can't be trusted
You're just fooling yourself to accept it
Because from the very beginning,
It can't be trusted
Kamis, 17 Desember 2015
Why?
Why do people always questioning others act?
Satisfaction?
Curiousity?
Or
They’re just too tired to questioning their own act?
But one thing for sure
Be aware to the one who’s “just curious"
and the one who’s “really care”
Satisfaction?
Curiousity?
Or
They’re just too tired to questioning their own act?
But one thing for sure
Be aware to the one who’s “just curious"
and the one who’s “really care”
Kamis, 10 Desember 2015
Joke?
Joke?
Pernahkah kalian ketika sedang asik main game di hape sampai kadang tidak menggubris lawan bicara lalu terceletuk "ah autis nih, main mulu"
Atau saat serius mengerjakan sesuatu sampai terkadang lupa pada lingkungan sekitar.
Saya pernah, beberapa kali
Boleh dibilang saya tipe orang yg kalau sedang suka sama sesuatu biasanya bakal (terlihat) serius melakukan hal itu, sampai puas 😁
Contoh saat ini saya lagi suka sekali main game onet deluxe. Agak telat sih, padahal (katanya) boomingnya dari dulu. Heheh...
Berkat ke-sok-seriusan saya main game ini saya dibilang autis.
Lalu pernah juga waktu saya ngambil foto pakai hape. Kondisinya adalah yg saya foto itu serangga, sejenis kepik yg ga bisa berhenti bergerak. Jadi saya harus lagi-lagi (sok) serius agar dapat foto yg saya mau.
Dan, lagi-lagi saya dibilang autis.
Well, saya sih waktu itu ga berkomentar apa2. Tapi, saya sedikit risih dengan beberapa orang yg sedikit-sedikit menggunakah kata "autis" sebagai celotehan
Come on, autism is not a joke!
Saya risih, atau mungkin sedikit tersinggung karena saya bukan autis!
Saya risih, atau mungkin sedikit kesal karena autis adalah sebuah penyakit, yang notabene gaada yg mau kena penyakit itu!
Saya risih, atau mungkin sedikit marah karena mereka ga berhak menggunakan kata itu sebagai guyonan.
Saya heran juga sejak kapan kata itu digunakan sebagai bahan guyonan.
Apakah karena penderita autisme yang cenderung untuk susah melakukan banyak hal dan hanya bisa fokus dalam satu hal sehingga kalau ada orang yg fokus main game "dianggap" autis?
Saya rasa itu analogi yg salah.
Setiap manusia memiliki masalahnya masing-masing.
Setiap manusia memilik sisi lemahnya sendiri.
Hanya karena kita tidak mengalaminya bukan berati kita berhak menghakimi dengan menggunakannya sebagai bahan guyonan.
Dunia ini sudah penuh dengan celotehan yg kadang tidak kita sadari kalau menyakiti orang lain.
Pun dunia ini penuh dengan komentar manusia-manusia yg tak mau memandang sesuatu dari berbagai sudut.
Alhasil dunia ini jadi penuh dengan komentar dan celoteh yg kadang menyudutkan orang lain.
Ini pengingat juga sebenarnya untuk saya juga agar selalu bisa menjaga lisan dan perbuatan.
Juga pengingat agar memperhatikan lingkungan sekitar dan tidak terlalu fokus pada smartphone 😊
Well, let's make a world that full of people who respect each other! 😊
Rabu, 09 Desember 2015
Kamis, 09 April 2015
Accept
People never accept you for what you are
They just see you for what they want to see
Just find the people who accept you as you really are
And you don’t have to satisfy people who don’t see you as you are
They just see you for what they want to see
Just find the people who accept you as you really are
And you don’t have to satisfy people who don’t see you as you are
Selasa, 24 Februari 2015
Logika
Ada yg tak bisa dijelaskan oleh logika
Tentang kebersamaan yg terjadi tiba-tiba
Tentang rasa nyaman pada pribadi yg berbeda
Tentang keterbukaan yg hanya dirasa oleh dia yg bersedia membuka diri juga
Ada yg tak bisa dijelaskan oleh logika
Tentang dia
Yang selalu bersama kala yang lain menutup mata
Yang saling bertahan demi ikatan yg tetap terjaga
Tentang kebersamaan yg terjadi tiba-tiba
Tentang rasa nyaman pada pribadi yg berbeda
Tentang keterbukaan yg hanya dirasa oleh dia yg bersedia membuka diri juga
Ada yg tak bisa dijelaskan oleh logika
Tentang dia
Yang selalu bersama kala yang lain menutup mata
Yang saling bertahan demi ikatan yg tetap terjaga
Senin, 02 Februari 2015
Listen
People should learn to listen
The more you listen, the more you know
The more you know, the more you learn
The more you learn, the more you empathic
The more you empathic, the more you care
The more you listen, the more you know
The more you know, the more you learn
The more you learn, the more you empathic
The more you empathic, the more you care
Minggu, 18 Januari 2015
Pada Suatu Hari Nanti
pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri
pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati
pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari
(1991)
SDD
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri
pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati
pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari
(1991)
SDD
Kamis, 18 Desember 2014
[Review] Pendekar Tongkat Emas
Film ini adalah salah satu film yg saya tunggu kemunculannya dari dulu.
Betapa tidak, film ini mempertemukan 2 aktor Indonesia favorit saya, yaitu Nicholas Saputra dan Reza Rahadian. Apalagi ditambah dengan tangan dingin Mira Lesmana dan Ifa Isfansyah.
Awal mula film ini dibuka dengan narasi dari Cempaka (Christine Hakim) yg menceritakan bahwa dunia persilatan saat ini dalam masa kegelapan. Dunia persilatan menurutnya seperti berada dalam sebuah gua, kemanapun kita melangkah yg ditemukan hanyalah kegelapan.
Dan butuh setitik cahaya untuk menuntunnya keluar dari kegelapan itu.
Cerita dimulai ketika Cempaka ingin mewariskan Tongkat Emas ke salah satu diantara ketiga muridnya, yang dia sebut juga sebagai "dosa besar".
Dara (Eva Celia), murid paling muda. Gerhana (Tara Basro), murid yg terlihat cukup ambisius. Biru (Reza Rahadian), murid yg paling kuat diantara ketiganya. Angin (Ariah Kusumah), salah satu murid andalannya yg juga mambantunya dalam pemulihan.
Tongkat Emas inilah yg membawa ketiga murid Cempaka untuk bertarung satu sama lain. Ya, untuk memperebutkannya.
Dan pertarungan ini membawa Elang (Nicholas Saputra)
Jujur meskipun antusias menunggu film ini, saya sempat sedikit takut kalau nantinya saya akan membanding-bandingkan film ini dengan Rurouni Kenshin dalam segi action.
Tapi Mira Lesmana membuang ketakutan saya, dan menggantinya dengan decak kagum. This movie is beyond my expectation!! Memang pada awal film masih sedikit terlihat tidak luwes, dan kuarng berani menampilkan seluruh tubuh. Tapi, overall saya puas! Action silat yg ditampilkan begitu memukau. Membuat mata saya terpana akan keelokan sekaligus kegagahan seni pencak silat. Memperlihatkan kalau pencak silat itu memadukan keindahan dan kelentikan gerakan sekaligus kekuatan penggunanya.
Dan, Mira Lesmana berhasil membawa pencak silat membawa ke panggung perak ini.
Film ini juga memanjakan kita pada pemandangan padang rumput Sumba yg indah, pemandangan dari tanah Timur yang masih asri. Give an applause for cinematography team!
Scoring yg dimainkan ditengah-tengah film juga memanjakan telinga saya. Saya selalu suka musik gubahan Erwin Gutawa.
Kalau boleh sedikit berkomentar pada awal film saya merasa film ini minim dialog. Sehingga kadang emosi yg terbentuk kurang. Tapi mendekati pertengahan film, saat Dara tahu siapa Elang sebenarnya penonton mulai bisa mengikuti alur cerita. Emosi yg disampaikan Dara, Elang, Gerhana, dan Biru mulai bisa dirasakan.
Dari segi akting, ini pertama kali saya melihat akting Eva Celia. Dan Eva membuktikan kalau dia pantas masuk dalam jajaran aktris muda terbaik di generasinya. Perubahan sosok Dara yg dari awal terlihat polos, biasa aja menjadi Dara yg ingin menjadi kuat, Dara yg percaya akan kekuatan terpendamnya diperankan Eva Celia dengan sangat baik.
Tara Basro, meskipun sudah cukup banyak film yg dia mainkan, saya masih asing melihat sosoknya disini. Tapi saya harus berdecak kagum padanya. Ekspresi wajahnya yg ambisius dan menyimpan sesuatu yg tak mau diusik oleh siapapun terlihat menakutkan bagi saya.
Dan, 2 aktor favorit saya ini tak perlu diragukan lagi.
Elang yg misterius, tak ingin disentuh masa lalunya, bertekad kuat, dan berani menghadapi tantangan dimainkan begitu apik oleh Nicholas Saputra.
And last but not least Reza Rahadian sukses memerankan tokoh yg terlihat bersahaja tapi ternyata bengis dan menyimpan ambisi yg besar.
Oiya jangan lupakan Christine Hakim. Narasi yg dituturkannya pada pembuka film membuat saya merinding. Suaranya terdengar penuh sesal, tapi juga menyimpan harap.
Overall film ini membuat saya puas! Puas maksimal!
Pesan yg disampaikan juga masuk, yaitu untuk menjadi kuat bukan hanya kekuatan yg diperlukan tapi juga kemurnian hati. Kegelapan hati hanya akan membuat kita lemah.
Terima kasih Mira Lesmana sudah memanjakan kami dengan tontonan yg ciamik.
Terima kasih telah memenuhi mimpimu untuk membuat film silat, yg notabene berimbas pada kepuasan kami.
Semoga film Indonesia semakin berjaya di rumahnya sendiri :)
*a lil bit selfie for this mmovie :p
Kamis, 11 Desember 2014
[RESENSI] Hujan Matahari - Kurniawan Gunadi
"Ini buku orang introvert". Itulah kesan pertama saya setelah membolak-balik beberapa halaman pertama buku ini.
Sebagai orang introvert saya merasa memiliki pandangan yg sama dalam beberapa hal. Padahal bisa dibilang saya baru membaca tak lebih dari seperlima buku ini.
Buku ini dibagi menjadi 3 bagian, yaitu Gerimis, Hujan, dan Reda
Pada bagian pertama, Gerimis, saya menemukan beberapa tulisan yg tidak asing lagi. Ya, sebagai pengikut tumblr penulis saya cukup intens membaca tulisan-tulisan penulis.
Pada bagian ini cerita yg disuguhkan serasa ringan dan serasa dekat dengan keseharian kita. Seperti yg saya ungkap di awal tadi, mungkin karena sesama "introvert".
Ringan karena banyak tulisan yg memuat tentang percakapan, tentang hal yg kita alami sehari-hari.
Dan beberapa kutipan favorit saya
Percayalah, di dunia ini hampir semua orang memakai topeng. Termasuk kamu, untungnya aku tidak mudah percaya dengan topengmu.
Hujan tidak pernah tahu dimana ia jatuh. Maka beruntunglah hujan yg jatuh di tempat yg tepat. Di tempat yg sedang membutuhkan hujan. Aku adalah tempat itu dan kamu adalah hujan."Pada bagian pertama ini saya menyebutnya "mengenal". Penulis seakan memberi kesempatan pembaca untuk mengenal dirinya lewat tulisan-tulisannya yg ringan.
Pada bagian kedua tulisan yg disuguhkan mulai terasa "agak berat". Pada bagian ini kita seakan dapat melihat dunia dibalik kacamata penulis.
Pembaca diajak untuk membuka diri. Membuka diri kita untuk melihat dunia lewat sudut pandang lain, sudut pandang penulis.
Beberapa kutipan favorit saya :
Memahami adalah sebuah proses penerimaan.
Akan selalu ada orang yg tidak menyukai kehadiran kita. Namun, percayalah bahwa selalu ada orang yg mengharapkan keberadan kita. Menanti dengan harapan. Dan kita tidak perlu datang untuk orang-orang yg benci. Tidak usah pedulikan. Sebab, kita datang untuk orang yg benar-benar mengharapkan kita. Bukan tentang siapa kita, tapi menyadari bagaimana kita ternyata begitu berharga bagi orang lain."
Untuk bagian ketiga berupa tulisan-tulisan pendek.
Beberapa tulisan favorit saya adalah Karena Apa?, Ada di Langit, Maukah Kau Mencoba Menjadi Angin.
Keseluruhan buku ini menceritakan tentang hubungan. Hubungan dengan "seseorang" yg kita harapkan untuk dipertemukan oleh-Nya. Dan percayalah setelah membaca buku ini Anda tak akan merasa "galau". Justru merasa yakin dan mantap untuk memperbaiki diri.
Jujur buku ini saya baca dengan kecepatan yg "agak ngebut". Setelah menyandang status sebagai pekerja kantoran, saya jadi punya sedikit waktu luang di hari biasa. Dalam sehari mungkin kalau sedang ingin membaca saya lakukan di malam hari, setelah pulang kantor. Itupun kalau tidak mengantuk atau sedang tidak ingin nonton film.
Tapi buku ini lain. Buku ini memaksa saya untuk sengaja memberikan jeda pada rutinitas saya. Sebelum memulai bekerja dan waktu istirahatlah yg saya gunakan untuk membaca buku ini. Hal yg jarang saya lakukan.
Saya seakan tak mau ketinggalan untuk menyelesaikan lembar per lembar dari buku ini.
Selama ini hanya segelintir buku yg saya baca ngebut. Kala Kali dan Life Traveler dari Windy Ariestanty, Sang Penjaga Waktu dan Selasa Bersama Morrie dari Mitch Albom, Perahu Kertas karya Dewi Lestari, dan Sabtu Bersama Bapak karya Adhitia Mulya adalah contohnya.
Saya seakan tidak rela untuk memberikan jeda ketika tenggelam dalam tulisan di buku-buku tersebut. Ya, seperti sekarang ini.
Kalau boleh menarik kesimpulan, mungkin yg saya suka adalah gaya tulisannya.
Buku favorit, pasti Anda punya. Tapi, penulis favorit?
Dapatkah Anda menyebutkan nama penulis favorit Anda?
Penulis yg karyanya selalu Anda tunggu.
Penulis yg gaya tulisannya begitu membuat Anda jatuh cinta.
Windy Ariestanty dan Mitch Albom adalah penulis favorit saya sejauh ini. Saya selalu suka gaya tulisannya, cara dia menceritakan sesuatu.
Mungkin, Kurniawan Gunadi ini bakal menjadi penulis favorit saya yg ketiga.
:)
Rabu, 12 November 2014
Realize
The harddest thing is to realize
The saddest thing is to realize
The most unpleasent feeling is to realize
The most unacceptance feeling is to realize
But..
Somehow the best thing come up when you have already realized
The saddest thing is to realize
The most unpleasent feeling is to realize
The most unacceptance feeling is to realize
But..
Somehow the best thing come up when you have already realized
Hidup di Jakarta
Hidup di Jakarta memberi saya kesempatan untuk bepergian dengan berbagai macam transportasi
Sebut saja kopaja, trans jakarta, taksi, mikrolet, metromini, bajaj, ojek.
Kalau di Surabaya?
Jangan tanya
Terkahir saya naik angkutan umum itu waktu SMA
Setelah itu?
Tak sedikitpun saya terlepas dari si biru (baca:sepeda motor) heheheh
Hidup di Jakarta menyadarkan saya akan satu hal
Saya lebih suka menggunakan taksi sebagai alat transportasi dibanding yang lainnya
Terlepas dari harga, tentu saja
Taksi seakan memberimu ruang
Ruang untuk menyendiri
Untuk dirimu sendiri
Ruang untuk bebas
Bebas mengamati sekelilingmu
Bebas berbicara pada diri sendiri tentang apa yg telah kau lakukan
Ataupun, yang mungkin akan kau lakukan
Dan,.hidup di Jakarta bisa membuatmu menajamkan indera pendegaranmu, mengasah lisanmu, dan memperkuat dirimu.
Sebut saja kopaja, trans jakarta, taksi, mikrolet, metromini, bajaj, ojek.
Kalau di Surabaya?
Jangan tanya
Terkahir saya naik angkutan umum itu waktu SMA
Setelah itu?
Tak sedikitpun saya terlepas dari si biru (baca:sepeda motor) heheheh
Hidup di Jakarta menyadarkan saya akan satu hal
Saya lebih suka menggunakan taksi sebagai alat transportasi dibanding yang lainnya
Terlepas dari harga, tentu saja
Taksi seakan memberimu ruang
Ruang untuk menyendiri
Untuk dirimu sendiri
Ruang untuk bebas
Bebas mengamati sekelilingmu
Bebas berbicara pada diri sendiri tentang apa yg telah kau lakukan
Ataupun, yang mungkin akan kau lakukan
Dan,.hidup di Jakarta bisa membuatmu menajamkan indera pendegaranmu, mengasah lisanmu, dan memperkuat dirimu.
Judge
Judging is like a trap
Once you fall into it, you can never see something with another point of view
Once you fall into it, you can never see something with another point of view
Macet
Hidup di Jakarta membuatku mulai terbiasa dengan kemacetan.
Yah macet. Kau pasti heran.
Macet bagi warga jakarta sudah bagai teman, rekan, sejawat, atau apalah itu.
Macet bagi pendatang baru bagai musibah.
Macet bagiku? Jelas sebuah musibah.
Menunggu bagiku adalah sebuah petaka.
Yang kuharap bisa kuputar waktu lebih cepat tuk menghindarinya.
Tapi, terkadang aku seakan mulai menikmati kemacetan.
Ya, kau tak salah dengar.
Kadang dalam kemacetan aku merasa sekelilingku menjadi hening.
Dan kau tahu, aku penikmat keheningan.
Aku suka merasakan diriku di tengah keheningan.
Begitu juga dengan orang di sekelilingku.
Mereka seperti berada dalam dunianya sendiri.
Bermain smartphone, melamun, menikmati nyanyian pengamen, membaca, dan berbagai kegiatan utk mengisi waktu di kemacetan.
Dan, yah, mungkin, kami, warga ataupun pendatang jakarta, mulai menikmati kemacetan itu sendiri.
*dapat tantangan menulis prosa pendek dari seorang teman, yang berujung jadi prosa tak pendek, dan diramu dengan berbagai tambahan didalamnya.
Yah macet. Kau pasti heran.
Macet bagi warga jakarta sudah bagai teman, rekan, sejawat, atau apalah itu.
Macet bagi pendatang baru bagai musibah.
Macet bagiku? Jelas sebuah musibah.
Menunggu bagiku adalah sebuah petaka.
Yang kuharap bisa kuputar waktu lebih cepat tuk menghindarinya.
Tapi, terkadang aku seakan mulai menikmati kemacetan.
Ya, kau tak salah dengar.
Kadang dalam kemacetan aku merasa sekelilingku menjadi hening.
Dan kau tahu, aku penikmat keheningan.
Aku suka merasakan diriku di tengah keheningan.
Begitu juga dengan orang di sekelilingku.
Mereka seperti berada dalam dunianya sendiri.
Bermain smartphone, melamun, menikmati nyanyian pengamen, membaca, dan berbagai kegiatan utk mengisi waktu di kemacetan.
Dan, yah, mungkin, kami, warga ataupun pendatang jakarta, mulai menikmati kemacetan itu sendiri.
*dapat tantangan menulis prosa pendek dari seorang teman, yang berujung jadi prosa tak pendek, dan diramu dengan berbagai tambahan didalamnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpeg)
.jpeg)